jhonris parsaulian (10507315) 3PA05
Teori-Teori Leadership
Kepemimpinan (Leadership) adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan untuk memotivasi orang-orang mencapai tujuan tertentu (Gibson et al., 1999). Defnisi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melibatkan pegunaan pengaruh dan karenanya semua hubungan dapat merupakan upaya kepemimpinan. Unsur kedua dari definisi itu menyagkut pentingnya proses komunikasi. Pemrosesan komunikasi menggunakan konteks yang spesifik untuk membentuk persepsi (Matviuk, 2007), sehingga kejelasan dan ketepatan komunikasi mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut.
Dalam studi politik di Indonesia, tema kepemimpinan politik melahirkan beberapa karya yang cukup penting. Salah satu studi yang cukup terkenal dilakukan oleh indonesianis asal Australia, Herbert Feith. Dalam bukunya The Decline of Costitutional Democracy, ia membahas tipe kepemimpinan yang lahir pada masa orde lama berkuasa, khususnya masa demokrasi liberal (1949-1957). Pertama seorang penggalang solidaritas massa (solidarity makers) dan kedua, tipe pemimpin seorang administrator. Kedua tipe pemimpin tersebut lahir dari perenungan Feith terhadap konteks sosial politik pada periode 1949-1957. Pada masa itu republik Indonesia baru saja berdiri. Organisasi-organisasi politik yang pernah berjuang dibawah pemerintahan Belanda mulai berkompetisi untuk masuk ke dalam tubuh negara (Herbert Feith. (1962). The Decline of Costitutional Democracy. Ithaca & London : cornell University Press. Hal. 113)
Kepemimpinan diterapkan oleh pemimpin dalam organisasi bisnis didasarkan atas nilai-nilai personal mereka (Robinson et al., 2007). Tiga lapis nilai-nilai personal yang berkaitan dengan kepemimpinan adalah lapisan pertama bersandarkan pada nilai-nilai moral dan keprilakuan (surface), diikuti denagn komitmen pada kualitas dan belajar seumur hidup (hidden) dan terakhir nilai-nilai kognitif (deep) (Robinson et al., 2008).
Nilai- nilai personal dari pemimpin ditambah dengan model-model motivasi dan kekuasaan sebagai alat kepemimpinan dapat digunakan sebagai pijakan untuk pengembangan kepemimpinan.
- Teori Kepempinan Partisipatif.
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada (sumber:http://www.indonesiannursing.com/2008/05/25/kepemimpinan-dalam-keperawatan/)
- Teori X dan Y (Douglas McGregor).
Douglas Mc Gregor mengemukakan bahwa para pimpinan organisasi birokratis menganut asumsi tentang sifat alami manusia yang oleh Mc Gregor disebut Teori X. Asumsi tersebut adalah:
1) Rata-rata individu memiliki ketidaksukaan pada pekerjaan dan akan menghindarinya sewaktu ada kesempatan.
2) Rata-rata individu memilih diarahkan dengan harapan menghidari tanggung jawab dan lebih tertarik kepada insentif materi daripada prestasi diri.
3) Karena manusia tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dikendalikan, diancam dan dipaksa untuk mengerahkan usaha yang cukup untuk mencapai tujuan organisai.
Mc Gregor mempertanyakan asumsi tersebut dengan mengajukan asumsi yang berbeda (Teori Y) agar dapat mendorong pekerja untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara utuh. Asumsi teori Y adalah:
1) Pengeluaran usaha fisik dan mental dalam bekerja harus seimbang dengan istirahat atau hiburan.
2) Manusia akan membiasakan kontrol diri dan mengarahkan diri untuk mencapai tujuan-tujuan yang dipatuhinya secara pribadi.
3) Rata-rata individu belajar di bawah kondisi yang sesuai untuk mencari dan menerima tanggung jawab.
4) Kapasitas untuk menerapkan imajinasi dan kreatifitas terhadap pemecahan masalah-masalah organisasi secara lebih luas terbagi di antara para pekerja.(sumber: http://www.indonesiannursing.com/2008/05/25/kepemimpinan-dalam-keperawatan/)
- Teori Sistem 4 (Rensis Likert).
Sebagai pengembangan, maka para ahli berusaha dapat menentukan mana di antara
kedua gaya kepemimpinan itu yang paling efektif untuk kepentingan organisasi atau
perusahaan. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam menjalankan gaya kepemimpinan adalah empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Empat sistem
tersebut terdiri dari:
- Sistem 1, otoritatif dan eksploitif :
manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah
para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara
kaku ditetapkan oleh manajer.
- Sistem 2, otoritatif dan benevolent:
manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan
untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Bawahan juga diberiberbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan
prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
- Sistem 3, konsultatif:
manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal
itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusankeputusan
mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih
digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.
- Sistem 4, partisipatif :
adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi
seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat
oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka
melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota
kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan
penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada
bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar